Race Perahu Ketinting Menjadi Penutup Rangkaian Festival Budaya Desa Loa Kulu Kota

Race Perahu Ketinting resmi dibuka di Taman Loa Kulu Kota (Ex Kayu Mas), Desa Loa Kulu Kota, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Sabtu (15/8/2026).

Aksaramedia.net, LOA KULU — Race Perahu Ketinting resmi dibuka di Taman Loa Kulu Kota (Ex Kayu Mas), Desa Loa Kulu Kota, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian Festival Budaya Desa Loa Kulu Kota 2026 yang telah berlangsung sejak Minggu malam, 9 Agustus 2026. Race Perahu Ketinting dilaksanakan selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, 15–16 Agustus 2026.

Ketua Panitia, Aspian Noor, mengatakan Festival Budaya Desa Loa Kulu Kota 2026 diisi dengan sejumlah kegiatan yang mengangkat seni, budaya, dan kearifan lokal masyarakat.

Rangkaian kegiatan tersebut meliputi pentas seni, lomba gasing beregu dan perorangan, lomba menyumpit beregu dan perorangan, lomba karaoke lagu Nusantara, bekokor perahu, hingga Race Perahu Ketinting sebagai kegiatan penutup.

Untuk Race Perahu Ketinting tahun ini, sejumlah kelas diperlombakan, meliputi Perahu Jarum 230 CC Open, 550 CC Open, serta kelas 460 CC Perahu Fiber Nelayan Lokal khusus Kecamatan Loa Kulu, dengan total hadiah sebesar Rp60.050.000.

“Festival ini telah berjalan dari tahun ke tahun, semoga kegiatan ini dapat berjalan terus menerus,” ujar Aspian.

Baca Juga  Dispora Kukar Sukses Gelar Gowes Tahunan Terbuka

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Festival Budaya Desa Loa Kulu Kota 2026.

Sementara itu, Kepala Desa Loa Kulu Kota, Mohamad Rizali, mengatakan Open Race Perahu Ketinting menjadi salah satu kegiatan yang telah dinantikan masyarakat dalam rangkaian Festival Budaya Desa Loa Kulu Kota 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan Desa Loa Kulu Kota kepada masyarakat luas.

“Kegiatan ini banyak hal yang didapat, baik itu promosi desa, promosi usaha atau UMKM ataupun hal-hal baik lainnya,” kata Rizali.

Ia menjelaskan, Festival Budaya Desa Loa Kulu Kota juga menjadi bagian dari upaya pemerintah desa dalam mendukung program Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara untuk mencintai dan melestarikan budaya.

“Tujuan kami dari pemerintah desa terkait Open Race Ketinting tahun 2026 ini masuk dalam rangkaian festival budaya setiap tahun kita lakukan dengan tujuan kami pertama mendukung program Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara untuk mencintai budaya,” ujarnya.

Baca Juga  Nobar “Pesta Babi” di Tenggarong, Pemuda dan Pers Diingatkan Jaga Alam

Selain pelestarian budaya dan promosi desa, Rizali berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat melalui keterlibatan pelaku UMKM.

“Terus juga bisa membawa ekonomi ke depannya untuk masyarakat atau ekonomi mikro yang ada di bawah,” katanya.

Rizali juga menekankan pesan pelestarian lingkungan yang menjadi bagian dari konsep Festival Budaya Desa Loa Kulu Kota, khususnya dalam menjaga Sungai Mahakam.

Menurutnya, masyarakat diingatkan untuk tidak membuang sampah ke Sungai Mahakam, melakukan penyetruman ikan maupun menggunakan racun untuk menangkap ikan.

“Kalau bukan kita sendiri menjaga Sungai Mahakam, kita sendiri yang mencintai Sungai Mahakam siapa lagi,” tegasnya.

Pembukaan Race Perahu Ketinting dilakukan oleh Sekretaris Camat Loa Kulu, Khairuddinata. Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Loa Kulu Kota dan panitia yang telah melaksanakan rangkaian Festival Budaya tersebut.

Khairuddinata mengatakan Race Perahu Ketinting tahun ini merupakan penyelenggaraan yang keenam dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.

“Melihat dari antusias, apalagi ini sudah yang keenam kali diadakan, antusias pasti sangat tinggi,” katanya.

Baca Juga  Petani Muda Menurun, Kukar Ambil Langkah Cepat

Menurutnya, Race Perahu Ketinting memiliki daya tarik tersendiri karena mengangkat kearifan lokal yang ada di Desa Loa Kulu Kota. Bahkan, pada pelaksanaan tahun sebelumnya, kegiatan tersebut disebut turut menarik perhatian wisatawan dari luar negeri.

“Bahkan mungkin seperti tahun kemarin itu dari luar negeri seperti Prancis datang ke sini untuk menyaksikan suatu lomba yang sangat unik menurut kami, suatu kearifan lokal yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara khususnya di Desa Loa Kulu Kota,” ujarnya.

Melihat potensi tersebut, Khairuddinata berharap Race Perahu Ketinting ke depan tidak hanya menjadi agenda desa maupun kecamatan, tetapi dapat berkembang menjadi agenda Kabupaten Kutai Kartanegara hingga tingkat provinsi.

“Harapan kami melalui open race perahu ketinting ini bukan hanya menjadi agenda desa atau agenda kecamatan saja. Tapi ke depan, ini menjadi suatu agenda dari kabupaten,” katanya.

Dengan berakhirnya Race Perahu Ketinting, seluruh rangkaian Festival Budaya Desa Loa Kulu Kota 2026 diharapkan dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai ruang untuk melestarikan budaya, memperkenalkan potensi desa, sekaligus mendorong perekonomian masyarakat.

Bagikan:

Berita Terkait