Bocah 11 Tahun Meninggal di Tengah Kabut Asap Kalteng, DPR Minta Risiko Karhutla Tak Dikecilkan

Suasana kawasan yang mengalami karhutla membara di Kalimantan beberapa waktu lalu.

Bebaca.id, MURUNG RAYA – Meninggalnya seorang bocah berusia 11 tahun setelah mengalami sesak napas di tengah kabut asap yang menyelimuti Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, mendapat perhatian DPR RI. Pemerintah diminta tidak mengabaikan risiko paparan asap terhadap kelompok rentan meski penyebab kematian korban belum dapat dikaitkan langsung dengan karhutla.

Dilansir dari CNN Indonesia, Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan menanggapi pernyataan Dinas Kesehatan (Dinkes) Murung Raya yang sebelumnya menyebut kematian korban belum dapat dipastikan berkaitan dengan paparan asap maupun infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Korban diketahui memiliki riwayat penyakit bawaan. Namun, menurut Daniel, kondisi tersebut justru perlu menjadi perhatian karena anak-anak dengan penyakit penyerta termasuk kelompok yang lebih rentan ketika kualitas udara memburuk.

“Kita juga tidak bisa serta merta menyatakan kematian korban tidak ada kaitannya dengan kabut asap karena memang keadaan Karhutla sudah semakin buruk, terutama di Kalimantan,” kata Daniel dalam keterangannya, Jumat (4/9/2026).

Daniel menilai kasus tersebut perlu ditangani secara empatik dengan tetap berpedoman pada bukti medis untuk mengetahui penyebab kematian korban.

Baca Juga  Pemkab Kukar Rayakan Lebaran Bersama Warga

“Tapi kita juga tidak boleh lupa, kelompok rentan yang memiliki penyakit bawaan seperti anak ini adalah yang paling terdampak kabut asap Karhutla,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan Dinkes Murung Raya, korban memiliki riwayat asma dan kelainan pada ginjal. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah daerah belum menyimpulkan kematian korban disebabkan paparan asap karhutla maupun ISPA.

Daniel memahami pemerintah tidak dapat menentukan penyebab kematian seseorang tanpa dasar pemeriksaan medis.

Namun, ketidakpastian mengenai penyebab kematian tersebut, menurutnya, tidak boleh membuat risiko kesehatan akibat kabut asap menjadi diabaikan.

“Namun ketidakpastian penyebab tidak boleh berubah menjadi alasan untuk mengecilkan risiko,” tegasnya.

Daniel kemudian meminta pemerintah meningkatkan penanganan karhutla untuk mencegah dampaknya semakin meluas.

Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan lingkungan. Kabut asap yang dihasilkan turut membawa risiko terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lanjut usia serta masyarakat dengan penyakit penyerta.

“Paparan kabut asap sangat mengancam kesehatan dan keselamatan masyarakat dan satwa. Orangutan sebagai satwa yang dilindungi bahkan sudah terkena dampaknya,” ujarnya.

Baca Juga  Keteladanan Sultan AM Idris Digaungkan ke Generasi Muda Kukar

Pemerintah juga diminta memastikan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak tersedia, mulai dari masker, alat kesehatan, oksigen hingga akses pelayanan medis.

“Pemerintah juga harus memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan bantuan. Masker, alat kesehatan, oksigen, layanan kesehatan, dan kebutuhan lainnya harus tersedia, terutama bagi kelompok rentan,” kata Daniel.

Sebelumnya, seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun mengalami sesak napas dan penurunan kondisi kesehatan sebelum akhirnya meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan di RSUD Puruk Cahu.

Peristiwa tersebut terjadi ketika wilayah Puruk Cahu tengah menghadapi kabut asap akibat karhutla.

Mengutip detikKalimantan, korban mulai mengalami sesak napas sebelum mendapatkan perawatan di rumah sakit pada Jumat (28/8/2026).

Kepala Dinas Kesehatan Murung Raya Suwirman Hutagalung mengatakan pihaknya belum dapat menghubungkan secara langsung kematian korban dengan asap maupun ISPA karena terdapat penyakit lain yang diderita korban.

“Anak tersebut juga sempat mengalami sesak napas, tapi tidak semerta-merta karena asap terus ISPA lalu meninggal. Namun, anak tersebut juga mengalami penyakit lain, yaitu kelainan yang terdapat pada ginjalnya,” kata Suwirman.

Baca Juga  Bendera Raksasa & Camping Meriahkan HUT ke-80 RI di Batu Dinding Samboja Barat

Selain kelainan ginjal, korban disebut memiliki riwayat asma sejak kecil.

Tetangga korban, Lulus Sriyati, mengatakan berdasarkan informasi yang diterimanya dari keluarga, korban telah mengalami asma sejak berusia dua tahun. Kondisinya disebut memburuk ketika kabut asap melanda Puruk Cahu.

“Menurut keluarganya, anak itu mengalami asma sejak usia dua tahun dan makin parah sejak terjadinya kabut asap di Kota Puruk Cahu,” ujar Lulus.

Keluarga sempat berencana membawa korban ke rumah sakit di Banjarmasin untuk memperoleh penanganan lebih lanjut. Namun, rencana tersebut tidak terlaksana karena korban meninggal dunia pada Senin (31/8/2026) pagi.

Hingga kini belum ada kesimpulan medis yang memastikan paparan kabut asap sebagai penyebab meninggalnya korban. Di tengah ketidakpastian tersebut, kasus ini memunculkan kembali perhatian terhadap perlindungan kelompok rentan selama karhutla dan penurunan kualitas udara melanda sejumlah wilayah Kalimantan.

Bagikan:

Berita Terkait